Menyalakan Cahaya Bintang Di Langit Tarbiyah

Nama Mahasiswa        : Arya Aji Syahfudi

Nim                             : 12401012

Semester/Kelas            : 2 / 2A

Prodi                           : Pendidikan Agama Islam (PAI)

Mata Kuliah                : Filsafat Pendidikan Islam

Dosen pengampu        : Dr. Syamsul Kurniawan, M,Si

                                      Khairunnisyah, M,Pd

 

MENYALAKAN CAHAYA BINTANG DI LANGIT TARBIYAH

“Metode Pendidikan Islam dalam Membimbing Jiwa Agar Terus Bersinar”

Di tengah kesibukan para mahasantri dan mahasiswa Ma’had IAIN Pontianak di sela halaqah diskusi kitab, dan tugas kuliah yang tak pernah habis terhampar suasana malam yang tak kehilangan makna. Saat suara adzan Isya menggema lembut, kaki-kaki melangkah ke mushalla dengan kitab di tangan, sementara cahaya lampu bersaing malu-malu dengan kerlip bintang di langit kampus. Di sudut-sudut mushalla, para pembimbing duduk bersama mahasantri, membacakan ayat suci, membenarkan bacaan, lalu menuturkan kisah nabi yang penuh hikmah. Di sana sebenarnya pendidikan Islam sedang bekerja dalam diam. Tanpa sorak tepuk tangan, tanpa gemerlap panggung, tapi perlahan menyalakan cahaya dalam hati-hati muda yang sedang tumbuh.

Apa Sih Pendidikan Islam Itu Dan Bagaimana Metode Didalamnya?

Pendidikan Islam sejatinya bukan hanya soal memberi tahu, tetapi soal menyalakan. Setiap mahasantri dan setiap mahasiswa, ibarat bintang yang belum bersinar. Melalui proses tarbiyah, mereka dibimbing dengan ilmu, dikuatkan dengan iman, dan dihiasi dengan akhlak. Metode pendidikan Islam tak hanya mengisi pikiran dengan konsep, tapi juga membentuk kepribadian yang kokoh dan lembut. Cahaya yang dinyalakan itu kelak akan menjadi pelita, menuntun mereka melewati jalan hidup yang kadang gelap dan penuh ujian. Seperti bintang di langit malam yang diam-diam memberi arah kepada para musafir, begitulah insan yang ditempa tarbiyah ia akan memberi petunjuk, bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi banyak orang di sekitarnya.

Allah Swt telah menegaskan dalam Al-Qur’an : “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang terbaik…” (Qs.An-Nahl:125). Ayat ini seperti pesan halus bahwa mendidik memerlukan kelembutan, kesabaran, dan kebijaksanaan. Tidak bisa hanya dengan logika kaku, tapi juga harus menyentuh rasa.

Rasulullah Saw telah memberi teladan bagaimana mendidik manusia dengan cinta. Dalam banyak riwayat disebutkan beliau sering mengajukan pertanyaan agar para sahabat berpikir, lalu membenarkan dengan kata-kata yang menyejukkan (Muslim, No. 667). Rasulullah tidak hanya mengajar lewat kata, tetapi juga lewat contoh hidup. Ketika sabar, beliau menjadi yang paling sabar. Ketika memberi, beliau menjadi yang paling dermawan. Metode pendidikan ini dalam sebuah penafsiran disebut qudwah hasanah keteladanan yang baik (Al-Abrasyi, 1981).

An-Nahlawi (1984) dalam kitabnya menegaskan bahwa mendidik ala Nabi bukan sekadar menyampaikan materi, tapi menghidupkan hati. Itulah mengapa dalam proses tarbiyah selalu ada kisah-kisah, nasihat, bahkan humor ringan yang menenangkan jiwa. Guru dalam tradisi Islam bukan hanya sumber ilmu, tetapi juga pemandu jalan menuju Allah. Ia bak seorang pengasuh, yang menumbuhkan tunas iman agar kelak menjadi pohon besar yang meneduhkan banyak orang.

Di Ma’had IAIN Pontianak  misalnya, pendidikan dijalankan tidak hanya dalam mushalla, tetapi juga lewat kebersamaan sehari-hari. Para ustadz atau mudabbir duduk bersama mahasantri, mendengar keluh kesah mereka, membimbing hafalan Qur’an dengan sabar, lalu berdiskusi panjang tentang makna ayat-ayat Allah. Dari sinilah ikatan batin terjalin, membuat ilmu lebih mudah meresap ke hati (Tarigan & Syukur, 2022). Dalam suasana penuh keakraban itu, nilai-nilai iman pun pelan-pelan tumbuh, seperti bintang yang mulai menyala malu-malu di langit senja.

Proses ini tak selalu mudah. Ada saat-saat di mana hati peserta didik keruh oleh godaan dunia. Karena itu, metode tarbiyah dalam Islam juga memadukan targhib yaitu memberi kabar gembira dan tarhib ialah peringatan. Peserta didik diajak merindu surga, tapi juga diingatkan akan neraka, agar langkah mereka tetap lurus (Al-Hazimi, 2014). Keseimbangan inilah yang perlahan membersihkan hati, atau dalam istilah tasawuf disebut tazkiyah an-nafs yakni penyucian jiwa.

Dalam jurnal Tarbiyah Islamiyah, Jannah (2018) menyebutkan model pendidikan yang menekankan hubungan batin seperti ini akan membuat ilmu bukan hanya melekat di kepala, tapi juga mengakar dalam hati. Dan hati yang terang adalah modal utama untuk terjun ke masyarakat. Kelak ketika para peserta didik lulus dan terjun kemasyarakat, mereka akan menjadi bintang yang memandu banyak orang, walau mungkin tak disadari. Bukankah bintang di langit pun diam saja, tapi tanpanya para musafir akan kehilangan arah?

Inilah hakikat dari “menyalakan cahaya bintang di langit tarbiyah”: mendidik dengan sabar, menanamkan iman setahap demi setahap, membersihkan hati dari gelapnya hawa nafsu, dan memberi bekal akhlak yang mulia. Pendidikan Islam seperti ini bukan sekadar menyiapkan manusia untuk ujian kelas, tetapi mempersiapkan mereka menghadapi ujian kehidupan yang jauh lebih besar. Sehingga, ketika zaman menjadi kelam, akan muncul generasi yang hatinya bercahaya, pikirannya jernih, lisannya santun, dan tindakannya menebar manfaat. Mereka menjadi bintang-bintang kecil yang menuntun jalan pulang banyak jiwa, menuju ridha Allah yang kekal.

Pada akhirnya, pendidikan Islam yang kita jalani dengan segala keheningan malamnya, keakraban di serambi masjidnya, tadarus lembut di sela kesibukan kuliahnya adalah upaya panjang menyalakan cahaya bintang di hati manusia. Cahaya yang mungkin tampak kecil, redup, atau bahkan nyaris padam, tapi dengan kesabaran dan kasih sayang, akan terus berpendar hingga suatu saat ia cukup terang untuk menerangi jalan orang-orang.

Inilah warisan agung metode tarbiyah ala Rasulullah Saw, yang tidak hanya membentuk kepala yang penuh hafalan, tetapi hati yang lapang, lembut, dan bercahaya. Karena dalam gelapnya tantangan zaman, justru bintang-bintang seperti inilah yang paling dibutuhkan mereka yang sederhana namun membawa terang, diam namun menjadi petunjuk, kecil namun tak pernah lelah bersinar.

Semoga setiap langkah kita dalam menuntun, mengajar, dan mendidik menjadi bagian dari menyalakan bintang-bintang tersebut. Dan semoga kelak, di hadapan Allah, cahaya-cahaya kecil ini berkumpul menjadi gugusan yang indah, menjadi saksi bahwa kita pernah berusaha menebar cahaya kebaikan di bumi, sekecil apa pun itu.

Referensi

  Al-Abrasyi, A. (1981). Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam. Jakarta: Bulan Bintang.

  Al-Hazimi, K. (2014). Ushul al-Tarbiyyah al-Islamiyyah. Riyadh: Maktabah Dar al-Fikr.

  An-Nahlawi, A. (1984). Ushul al-Tarbiyah al-Islamiyah wa Asalibuha fi al-Baiti wa al-

Madrasati wa al-Mujtama’. Damaskus: Dar al-Fikr.

  Jannah, M. (2018). Metode Pendidikan Islam dalam Membentuk Kepribadian Anak. Tarbiyah

Islamiyah: Jurnal Pendidikan Islam, 5(2), 112–125.

Tarigan, R., & Syukur, M. (2022). Strategi Pendidikan Islam dalam Membentuk Akhlak

Generasi Muda. Jurnal Tarbiyah Islamiyah, 9(1), 89–101.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

mencari tujuan hidup